Inilah Ciri-ciri Omicron pada Anak: Masalah Gastrointestinal dan Batuk Parau

sumber: cnnindonesia.com

info.hallobanua.com - Apakah gejala Omicron pada anak sama dengan gejala omicron pada orang dewasa? Ternyata gejala Covid-19 varian Omicron pada anak terbilang sama dengan gejala pada orang dewasa.

Mulya Rahma Karyanti, dokter spesialis anak, anak yang terinfeksi SARS-CoV-2 varian Omicron kerap ditemukan memiliki gejala batuk, pilek, demam, tetapi masih dalam taraf ringan.

"Biasanya memang gejala diawali dengan demam atau batuk pilek, tapi ketika batuk-pilek enggak membaik, orang tua patut curiga. Banyak yang tidak sadar kalau positif," kata Karyanti saat dihubungi CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.

Batuk parau dan diare juga menjadi gejala omicron yang khas pada anak. Gejala ini banyak dialami anak-anak saat mereka terinfeksi covid-19 varian omicron.

"Kami melihat lebih banyak pasien dengan batuk parau dan lebih banyak pasien yang dites positif Covid, yang merupakan sesuatu yang tidak kami amati selama fase awal lonjakan sebelumnya," kata dokter spesialis anak Ashley Keilman, dikutip dari CNN.

Selain itu, Andrew Pekosz, seorang profesor mikrobiologi molekuler dan imunologi di Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health menyebut gejala omicron masuk angin termasuk gejala omicron gastrointestinal disebut lebih sering terjadi pada anak-anak dibanding orang dewasa.

Apakah gejala Omicron pada anak sama dengan gejala omicron pada orang dewasa?

Ternyata gejala Covid-19 varian Omicron pada anak terbilang sama dengan gejala pada orang dewasa.

Mulya Rahma Karyanti, dokter spesialis anak, anak yang terinfeksi SARS-CoV-2 varian Omicron kerap ditemukan memiliki gejala batuk, pilek, demam, tetapi masih dalam taraf ringan.

"Biasanya memang gejala diawali dengan demam atau batuk pilek, tapi ketika batuk-pilek enggak membaik, orang tua patut curiga. Banyak yang tidak sadar kalau positif," kata Karyanti saat dihubungi CNNIndonesia.com, beberapa waktu lalu.

Batuk parau dan diare juga menjadi gejala omicron yang khas pada anak. Gejala ini banyak dialami anak-anak saat mereka terinfeksi covid-19 varian omicron.

"Kami melihat lebih banyak pasien dengan batuk parau dan lebih banyak pasien yang dites positif Covid, yang merupakan sesuatu yang tidak kami amati selama fase awal lonjakan sebelumnya," kata dokter spesialis anak Ashley Keilman, dikutip dari CNN.

Selain itu, Andrew Pekosz, seorang profesor mikrobiologi molekuler dan imunologi di Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health menyebut gejala omicron masuk angin termasuk gejala omicron gastrointestinal disebut lebih sering terjadi pada anak-anak dibanding orang dewasa.

Lalu apa yang harus dilakukan orang tua saat menemukan kecurigaan ada gejala omicron pada anak?

1. Tes PCR pada anak

Orang tua wajib memeriksakan anak terutama dengan tes usap atau tes PCR. Karyanti menuturkan, deteksi sedini mungkin akan memastikan anak terkonfirmasi positif atau tidak. Jika terkonfirmasi positif, bisa dilakukan langkah selanjutnya untuk memutus mata rantai penularan.

"Pemeriksaan penting untuk mengetahui apa flunya karena Covid-19 atau infeksi virus [yang gejalanya] mirip Covid-19, ada banyak seperti influenza, kemudian adenovirus, rhinovirus, enterovirus 71, itu gejalanya mirip flu-like illness. Common cold juga bisa seperti itu," jelasnya.

2. Isolasi mandiri

Rata-rata anak yang terkonfirmasi positif Covid-19 memiliki gejala ringan sehingga tidak memerlukan perawatan di rumah sakit. Isolasi mandiri wajib dilakukan serta tetap mematuhi protokol kesehatan.

3. Tes PCR bagi yang kontak erat dengan pasien

Mereka yang kontak erat dengan anak atau pasien wajib melakukan tes PCR. Ini berlaku buat orang tua atau keluarga yang serumah dan berinteraksi dengan anak.

Apa yang dimaksud dengan kontak erat? Kontak erat berarti ada kontak dengan pasien tanpa masker selama lebih dari 15 menit dalam jarak kurang dari 1 m.

"Hasil tes positif harus tracing siapa saja yang tertular, kalau tidak penularan makin luas," imbuhnya.

4. Obat-obatan dan vitamin selama isoman

Selama isolasi mandiri, kata dia, anak diberikan obat-obatan dan vitamin. Namun untuk pasien anak dengan gejala ringan biasanya diberikan vitamin seperti, vitamin C, D, dan Zinc.

Kemudian untuk gejala-gejala ringan seperti demam atau sakit tenggorokan bisa diberikan Paracetamol sebagai pertolongan pertama.

"Radang itu kan ada proses infeksi, dia meradang jadi nyeri dan demam. Bisa diberikan Paracetamol untuk penurun panas, antinyeri buat pertolongan pertama. Kalau 3 hari enggak membaik, tambah sesak, cek pakai alat saturasi. Kalau di bawah 96 bisa berobat," katanya.

"Anda harus cari penyebab demamnya, jangan-jangan infeksi yang lain apalagi sekarang banyak kasus DBD karena musim hujan."

Mahlan / may

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar

Hallobanua

Follow Instagram Kami Juga Ya