Edukasi Menstruasi Menentukan Kesehatan Reproduksi

Sumber : berisatu.com

INFO.HALLOBANUA.COM, Sensus Penduduk 2020 menunjukkan 11,5 juta kaum perempuan Indonesia berada di kelompok usia 10-14 tahun, masa dimana mayoritas remaja perempuan mengalami menstruasi pertama (menarke). Namun sayangnya, hanya 63% remaja perempuan yang sungguh memahami apa yang terjadi ketika menarke dan hanya 55% yang merasa siap.

Selain itu, kesadaran mereka akan perilaku hidup bersih dan sehat saat menstruasi juga masih relatif rendah. Tercatat, ada 1 dari 2 remaja perempuan yang tidak mengganti pembalut mereka setiap 4-8 jam serta tidak mencuci tangan mereka dengan sabun sebelum dan sesudah menggantinya.

Menstruasi tampaknya juga belum menjadi isu yang lumrah dibicarakan oleh masyarakat Indonesia. Survei demografi dan kesehatan Indonesia tahun 2017 mengindikasikan 1 dari 5 remaja perempuan tidak pernah berdiskusi seputar menstruasi dengan orang dewasa sebelum mengalami menarke.

Selain itu, 41% remaja perempuan memilih untuk merahasiakan bila sedang menstruasi guna menghindari rasa malu dan takut terhadap orang lain di sekolah, terutama remaja laki-laki. Bahkan, hal ini menjadi salah satu alasan yang menyebabkan 1 dari 6 remaja perempuan terpaksa tidak masuk sekolah selama satu hari atau lebih pada saat mereka sedang menstruasi.

Country Leader of Communications and Public Affairs PT Johnson & Johnson Indonesia, Devy Yheanne, mengungkapkan, merayakan Hari Kebersihan Menstruasi Sedunia (World’s Menstrual Hygiene Day) pihaknya bersama Prestasi Junior Indonesia (PJI) memberikan edukasi manajemen kebersihan menstruasi kepada 200 remaja perempuan dari Jakarta dan Bandung, melalui bincang inspiratif bertajuk "WiSTEM2D Talk: Let’s Start the Conversation About Menstruation!” yang digelar secara daring, Selasa (25/5/2021).

"WiSTEM2D Talk dihadirkan untuk menyediakan wawasan berbasis sains yang dapat menjawab berbagai keraguan remaja perempuan seputar manajemen kebersihan menstruasi. Berbekal pengalaman ini, kami mendorong kedua ratus remaja perempuan untuk menjadi duta kebersihan menstruasi dengan membagikan pengetahuan yang telah diperoleh kepada kaum perempuan lainnya di lingkungan terdekat mereka," jelas Devy.

Dewan Nasional Prestasi Junior Indonesia, Natalia Soebagjo, mengatakan, pengetahuan yang kurang memadai mengenai menstruasi telah membatasi partisipasi dan prestasi remaja perempuan di sekolah. Oleh karena itu, edukasi manajemen kebersihan menstruasi ini perlu digalakkan guna memberikan kepercayaan diri bagi mereka untuk mendobrak batasan yang ada serta memiliki peluang tanpa batas dalam mencapai potensi diri yang terbaik.

"Kami juga berharap kegiatan ini menginspirasi para orang tua dan guru untuk mulai aktif membuka komunikasi mengenai menstruasi di lingkup keluarga, sekolah, bahkan komunitas serta dapat membantu pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan dalam hal kesehatan yang baik dan kesejahteraan serta kesetaraan gender," kata Natalia.

Spesialis obstetri dan ginekologi, dr Damarizqa Dara Sjahruddin MKed Klin SpOG menjelaskan, remaja perempuan harus dibekali bagaimana siklus menstruasi yang normal dan cara menangani menstruasi yang bersih dan sehat.

"Mereka harus dikenalkan dengan memakai pembalut berdaya serap baik, mengganti pembalut setiap 3-4 jam sekali, serta mencuci tangan yang bersih sebelum dan sesudah mengganti pembalut. Ajak mereka untuk terbuka apabila mereka mengalami hal yang tidak normal saat menstruasi," jelasnya.

Psikolog anak dan remaja, Vera Itabiliana Hadiwidjojo SPsi Psi menambahkan, edukasi menstruasi sangat menentukan kesehatan reproduksi perempuan ke depannya.

"Penting bagi remaja perempuan untuk memahami betul tentang menstruasi, mulai dari bagaimana menjaga kebersihan menstruasi dan apa implikasi dari tanggung jawab seksual di dalamnya. Orang tua dan guru di sekolah perlu menyadari meski menstruasi merupakan hal lazim yang terjadi, tetapi menyikapinya tidak bisa dianggap hal yang remeh," pungkasnya.

Fahmi/Yayan

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar

Hallobanua

Follow Instagram Kami Juga Ya