Benarkah covid-19 varian Omicron 500 Kali Lebih Menular?

sumber: cnnindonesia.com

info.hallobanua.com - Infeksi covid-19 varian omicron mengancam seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Omicron sendiri sudah masuk ke Indonesia dan menginfeksi beberapa orang.

Data awal menyebutkan bahwa varian ini tak menimbulkan gejala yang berat, hanya saja virus ini jauh lebih cepat menular lantaran mutasi di spikenya. WHO menduga hasil mutasi virus corona ini akan menyebabkan angka kasus positif lebih banyak daripada varian Delta. Varian Omicron dikatakan hanya menyebabkan sakit ringan, tapi sudah ada sejumlah orang yang harus dirawat di rumah sakit dan bahkan meninggal setelah terinfeksi.

"Sejauh ini, kebanyakan tingkat keparahan pasien yang terinfeksi Omicron terdiagnosis ringan. Walau temuan itu sedikit melegakan, tingkat penularan Omicron yang cepat menimbulkan kekhawatiran. Omicron juga diduga dapat menghindari perlindungan dari vaksin dan infeksi sebelumnya," ungkap Muhammad Irhamsyah, Dokter Spesialis Patologi Klinik Primaya Hospital Bekasi Timur, dalam pernyataan yang diterima CNNIndonesia.com.

Namun benarkah varian omicron menular 500 kali lebih cepat?

Kemungkinan ini disebabkan oleh seorang peneliti dari Swiss memprediksi varian Covid-19 baru ini 500 persen lebih menular daripada Delta. Peneliti yang bekerja mendeteksi varian virus corona ini juga menyebutkan hampir mustahil membendung penularan ke negara lain. Di Afrika Selatan, menurut peneliti itu, kasus positif Covid-

19 bertambah 100 kali lipat di Afrika Selatan pada November 2021. Ledakan kasus ini dipicu oleh Omicron.

Hanya saja, sampai saat ini, WHO menyatakan data yang ada saat ini belum cukup solid dan terbukti. Data epidemiologis yang diperoleh dari Afrika Selatan tidak bisa dipakai untuk memastikan seberapa menular varian Covid-19 baru ini.

"Untuk mendeteksi varian Omicron, peneliti menggunakan metode whole genome sequencing atau pengurutan genom. Sampel diperoleh dari tes reaksi berantai polimerase (PCR). Pendeteksian ini serupa dengan cara mendeteksi varian Delta dan lainnya."

"Hingga kini belum ada obat Covid-19 yang tersedia. Langkah utama untuk sembuh dari Covid-19 adalah menjalani isolasi dan melapor ke fasilitas layanan kesehatan setempat. Penanganan terhadap pasien tergantung tingkat keparahan gejala. Pemerintah menyediakan tempat isolasi bagi pasien tanpa gejala atau bergejala ringan. Jika bergejala berat, pasien mesti mendatangi rumah sakit untuk mendapat penanganan lebih baik," ujar Muhammad.

Dia juga menyarankan untuk tetap mengikuti rekomendasi medis dari dokter yang menangani, terutama soal konsumsi obat-obatan. Konsumsi obat yang diresepkan dokter sesuai dengan dosis. WHO tidak merekomendasikan perawatan mandiri dengan obat apa pun, termasuk antibiotik, sebagai pengobatan.

"Terapkan protokol kesehatan dengan ketat untuk mencegah penyebaran Covid-19. Jaga jarak aman minimal 1 meter dari orang lain. Juga kenakan masker ketika berada di tempat umum, khususnya di dalam ruangan atau sulit menerapkan jaga jarak. Lalu jangan lupa cuci tangan dengan sabun secara rutin. Bila tak ada sabun, bisa pakai cairan pembersih berbahan alkohol.

"Vaksin juga telah terbukti bisa menekan risiko terinfeksi, termasuk dari varian Covid-19 yang baru. Ikuti program vaksinasi yang tersedia hingga dosis lengkap. Bila sudah ada program vaksin booster, ikuti pula agar sistem imun tubuh yang telah terbentuk dari vaksin pertama dan kedua lebih kuat."

Mahlan / may

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar

Hallobanua

Follow Instagram Kami Juga Ya