Kronologis lengkap misteri kematian dua bocah yang diduga dibunuh ibunya

sumber: kalsel.antaranews.com

info.hallobanua.com - Warga Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) Provinsi Kalimantan Selatan digegerkan dengan kematian dua bocah yang diduga dibunuh oleh ibu kandungnya sendiri, Rabu (25/11/2020).

Dua bocah yang berumur enam dan 4,5 tahun tersebut ditemukan meninggal dunia di rumah beton tingkat dua tanpa menggunakan pakaian.

Hal itu diketahui setelah warga bersama pihak kepolisian mencongkel rumah dengan desain Eropa tersebut dan mendapati dua bocah yang meninggal dengan posisi telentang di lantai dasar dalam kamar.

Awal Kejadian

Ibu korban berinisial St (27) seorang mama muda yang diduga sebagai tersangka itu mendiami rumah yang berlokasi antara perbatasan Desa Aluan Mati dan Desa Pagat Kecamatan Batu Benawa.

Sekitar pukul 13.00 wita, beberapa warga yang lewat rumah tersebut menanyakan kepada ibu korban kenapa anaknya tidak terlihat seharian.

Ibu korban pun menjawab bahwa anaknya sudah dia bunuh. Karena merasa penasaran dan curiga, akhirnya sekitar pukul 14.00 wita warga berkumpul dan mendatangi rumah tersebut sambil melihat-lihat di jendela.

Warga cuma melihat kalau kedua anaknya itu sedang rebahan, termasuk ibunya yang berada di rumah dan belum memastikan itu meninggal atau tidak.

Masih merasa penasaran, warga pun menghubungi pihak kepolisian dan setelah pihak kepolisian datang, baru bersama-sama berani mencongkel rumah. Karena ibu korban tidak mau membuka pintu. Ternyata benar, dua bocah yang berjenis kelamin laki-laki dan perempuan tersebut telah meninggal dunia.

Cerita Haji Iful

H Iful merupakan adik dari suami ibu kandung dua bocah yang meninggal.

Diceritakan dia, kakaknya yang berumur 52 Tahun itu sudah meninggal sekitar sebulan yang lalu akibat penyakit jantung.

Dengan demikian, istri kakaknya itu yang menikah 8 Tahun yang lalu hanya berempat mendiami rumah tidak beberapa jauh dari rumahnya sendiri. Yaitu bersama dua anak kandungnya berinisial MNK (6) laki-laki dan SNH (4,5) perempuan serta satu anak tiri yang berusia sekitar 10 Tahun duduk di kelas III SD.

St yang masih muallaf dinikahi oleh kakaknya saat masih kuliah semester akhir di Akademi Perawat (Akper) Murakata Barabai dan tidak menyelesaikan wisuda.

Kakaknya itu sebelum meninggal dikenal warga berprofesi sebagai tukang bangunan dan ada juga yang menyatakan sebagai Pananamba'an (orang pintar).

Pasca kematian kakaknya itu, St tidak ada gelagat yang mencurigakan ataupun terlihat stres atau depresi berat dan tampak seperti orang biasa.

"Pada hari selasa sebelum kejadian, St sempat membeli air minum di toko kami namun kami gratiskan saja. Anaknya pun biasa main ke rumahnya hampir setiap hari terlihat," katanya.

Namun, pada hari Rabu (25/11) sekitar pukul 09.00 wita, ia mendapati anak tiri dari istri kakaknya itu berlari ketakutan ke rumahnya dan tanpa menggunakan baju.

Ia pun sempat memarahi anak tersebut kenapa tidak menggunakan baju dan menanyakan kemana ibu dan adik-adiknya.

Anak itu hanya menjawab bahwa ibu dan adik-adiknya tidak ada di rumah.

Tanpa menaruh curiga, H Iful pun langsung menyuruh untuk memakai baju dan Ia kembali ke rumah memakai baju Almarhum ayahnya. Selanjutnya, Iful pun mengantar anak itu ke rumah neneknya di Desa Wake Kecamatan Hantakan tanpa singgah dulu di rumah kejadian.

Sekitar pukul 14.00 wita karena ribut-ribut warga, ia pun baru mengetahui bahwa dua keponakannya telah meninggal.

Saksi Kunci

Pada peristiwa pembunuhan tersebut, saksi kunci ada pada anak tiri St, anak perempuan yang berumur 10 Tahun dan baru duduk di kelas III sekolah Dasar (SD).

H Iful saat mendampingi anak tiri St diperiksa di kepolisian menceritakan kronologis kejadian. Karena anak tiri St itu melihat langsung kematian dua bocah itu.

Ia menceritakan, sekitar pukul 08.00 wita, ia melihat MNK (6) meninggal dunia akibat tubuhnya dibalut kain. Dari leher sampai kepala juga diikat kain layaknya pocong yang dilakukan oleh ibu tirinya. MNK saat itu pun menurutnya sempat berontak, namun tidak berdaya lebih kuat ibu tirinya.

Sedangkan, SNH (4,5) karena masih kecil, ditutup hidung dan mulut oleh ibunya menggunakan tangan dan bantal hingga tidak bisa bernafas lagi.

Setelah melihat kejadian tersebut, tanpa menggunakan baju, Ia berlari ketakutan menuju rumah pamannya (H Iful) dan tanpa berani menceritakan yang dilihatnya kepada siapa pun.

Ibu korban

Ibu korban yang diduga sebagai tersangka berinisial St (27), ketika diamakan polisi di rumahnya sempat tidak menggunakan baju dan histeris dengan bergumam tidak karuan.

Setelah diikat polisi, St juga sempat berkata-kata aneh mengoceh seperti "akulah almasih, akulah kebajikannya, akulah roh kudus, akulah malaikat, akulah israfil," kata St.

Ia juga sempat mengoceh bernada lagu dengan menyebutkan "manusia kamu, akulah Tuhan, akulah Almasih, akulah ruhul qudus, akulah Alah, akulah Nur Muhammad".

Keterangan Polres HST

Polisi telah memeriksa dua saksi atas kasus kematian dua anak kandung St (27) tersebut.

"Hari ini telah kita panggil untuk dimintai keterangan," kata Kasat Reskrim Polres HST, AKP Dany Sulistiono, Kamis (26/11) di Barabai.

Saksi kunci yang diperiksa adalah adalah seorang anak tiri dari St. Dia masih duduk dibangku sekolah dasar kelas III.

Saat ini polisi belum menetapkan ibu kandung sebagai tersangka. Termasuk dengan pembunuhan dan penyebab kematian dua bocah tadi.

"Kami belum menetapkan tersangka. Saat ini ibu korban statusnya sebagai saksi," kata Kasat Reskrim, Dany.

Mengenai kejiwaan St yang disebut depresi sehingga diduga membunuh dua anak kandungnya itu pun masih didalami oleh kepolisian.

"Hal ini harus dipastikan dengan observasi beberapa kali terhadap kejiwaannya," kata Dany.

Saat ini St tengah menjalani pemeriksaan di Poli Kejiwaan Rumah Sakit Kandangan Kabupaten HSS.

"Pemeriksaan dilakukan selama 14 hari. Nanti dari hasil observasi, ketahuan apakah orang ini memang mengalami gangguan jiwa," terangnya.

Begitu juga hasil visum dari dua korban. Dany menerangkan masih menunggu hasilnya dari pihak RSHD Barabai dan hasil visum baru keluar 2 sampai 3 hari.

Namun, kematian anak St yang masih berumur 6 tahun dan 4,5 tahun itu diperkirakan kehabisan oksigen.

"Dokter belum memastikan tapi yang jelas kehabisan oksigen. Apakah itu dicekik, hidungnya ditutup bantal atau yang lainnya, kita belum berani menyimpulkan," tuntasnya.

Setelah divisum di RSHD Barabai, mayat kedua bocah tersebut dibawa ke rumahnya dan malam harinya selepas sholat isya langsung dimakamkan.

Arif / may

Baca Juga

Posting Komentar

0 Komentar

Hallobanua

Follow Instagram Kami Juga Ya